disqus

UBL Siapkan Lebih Dari 40 Juta Untuk Peserta Lomba Fotografi




INDONESIAN STUDY.com – JAKARTA – Universitas Budi Luhur Jakarta (UBL) siapkan dana sebesar 40.800.000 untuk hadiah peserta lomba Fotografi di Jakarta. Acara digelar di Plaza Gandaria City Jakarta Selatan (18/06).

Sebanyak 1.124 peserta yang mendaftarkan diri  hanya 75 foto yang berhasil ditampilkan setelah  dilakulan melalui 3 tahap seleksi. Dan dari 75 foto itu juga masih harus diseleksi dewan juri menjadi 15 pemenang yang dibagi dalam 3 kategori, yakni kategori pelajar, kategori mahasiswa dan Kategori umum kedalam 5 besar.

Dewan juri menyebutkan, Pemenang Juara 1 kategori pelajar adalah M. Kaffana Rizki asal Jepara dengan judul Sabar lan Narimo, juara 2  adalah Madha Agsyanohabi Rukmanda asal Madiun dengan tema Manua Bersama Budaya, sedangkan juara ke 3 adalah Karel Setya Wijaya dari SMK Negeri 1 Purwokerto dengan tema Bermain Tarik Bali. Selanjut masih ada dua peserta lagi yang menjadi juara harapan, yakni Jovin Christoper juara harapan 1 dan Oki Santosa juara harapan 2.

Untuk Juara 1 kategori mahasiswa diraih oleh Firmansyah asal Jogjakarta dengan tema Guru Budaya, juara 2 Alland Darmawan asal Malang dengan tema Generasi Penerus dan juara 3 Hilman Faturrahman Asal Bekasi dengan tema Tiada Mata Tak Hilang Cahaya. Dan untuk juara harapan 1 diraih Eghan fendra dan Syakib juara harapan 2.

Sedangkan untuk juara 1 kategori umum adalah Ardianto asal Jakarta dengan tema Agus Murtado Difabel Bukan Orang Lemah, juara 2 Romi Perbawa asal Surabaya dengan tema Pelopor Sekolah di Sabah dan juara 3 Dendi asal Depok dengan tema Pengembala Domba. Juara harapan 1 diraih Leonora Susan dan Beni Arisandi juara harapan 2.

Pendiri Yayasan Budi Luhur Cakti Djaetuh HS mengatakan, selain konsen terhadap pembelajaran lewat kurikulum, lomba pameran foto itu mengajak kita lebih mengerti tentang kebudiluhuran. Menurutnya Nilai budi luhur dapat dijumpai mulai dari manusia membuka mata memulai harinya.
“Nilai-nilai budi luhur merupakan bagian dari kearifan lokal yang perlu diangkat kembali sebagai karakter bangsa melalui sub-tema acara ini, yakni Sabar Mensyukuri (sabar narimo), Cinta Kasih (welas asih), Suka Menolong (seneng tetulung mring sapodo), Toleransi, Kerjasama dan Sopan santun, “katanya dalam sambutan melalui slide.

Beranjak dari hal tersebut Yayasan Pendidikan Budi Luhur Cakti mencoba mengambil bagian dari diskursus dunia fotografi dengan menyelenggarakan kegiatan lomba fotografi tingkat nasional. Tentu saja kegiatan ini bukan merupakan event pertama dalam komunitas fotografi, namun demikian merupakan salah satu upaya untuk mengisi ruang kosong agar pencinta fotografi dapat menyalurkan hobi sekaligus berkompetisi.
Tema yang diangkat dalam kompetisi “Budi Luhur dalam Lensa Kamera” dianggapa memiliki makna yang menantang bagi pecinta fotografi untuk memvisualisasikannya.

Menurut Ketua Pusat Studi Budi Luhur Rusdiyanta, konsep utama dalam lomba itu ialah foto Human interest (HI). Foto human interest memiliki komposisi yang unik karena menjadikan manusia sebagai subjek sekaligus objek. Foto dengan varian HI menunjukkan ketertarikan manusia terhadap suatu objek yang sarat makna dan penuh emosi.

“Di Indonesia, foto HI banyak menangkap kehidupan perekonomian lemah. Gambar-gambar seperti pengemis di Jakarta, ketimpangan antara pekerjaan di gedung pencakar langit berbanding dengan pekerjaan orang-orang pinggiran, sampai gambar-gambar kontemplasi dari wajah seorang Bapak atau Ibu setengah baya. Gambar-gambar tersebut diambil tidak lain bertujuan untuk menimbulkan rasa empati bagi yang melihat,” kata Rusdiyanta.

Sementara esensi foto human interest ialah dapat membawa pesan serta nilai-nilai yang dimaksud, sehingga tidak harus menampilkan sisi gelap kehidupan. Keinginan untuk merubah cara pandang dari sisi positif yang mendorong lomba ini hendak menerjemahkan nilai-nilai budi luhur dalam keseharian ke dalam sebuah foto. Sebagai nilai yang luas, nilai budi luhur menjangkau hingga lini kehidupan yang paling kecil, bahkan dalam melihat sisi lain kehidupan. Peserta diwajibkan menangkap foto dalam bentuk Photo Story yang menceritakan kembali foto melalui beberapa foto berseri yang memiliki cerita satu kesatuan 3 sampai 12 foto.

“Dengan begitu, karya-karya photo story dalam lomba ini diharapkan mampu menterjemahkan nilai-nilai budi luhur yang tentunya perlu mengolah emosi, memanfaatkan kreativitas dan kemampuan teknis sang fotografer,” pungkasnya.(ysf)


Related

activity 911495944577972617

terkini

Recent Posts Widget

populer

TrueBusiness

Newsletter

item